Beranda Wisata Promosikan Desa Wisata,Dispar ajak Masata di Provinsi Bengkulu

Promosikan Desa Wisata,Dispar ajak Masata di Provinsi Bengkulu

257

MataBengkulu.com – Sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Drs. Hengki Suprianto, MT mengajak organisasi Masyarakat Sadar Wisata (Masata) di Provinsi Bengkulu mendukung keberadaan 18 desa wisata. Apalagi pada April mendatang Pemprov Bengkulu berencana mengadakan lomba untuk mempromosikan desa wisata.

“Se-Indonesia ada 244 desa wisata. Di Bengkulu ada 18. Bisa saja bertambah. Pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten/kota menjadi momen baik untuk mempromosikan desa wisata,” kata Hengki, Sabtu (30/1).

Lomba Desa Wisata rencananya akan diluncurkan bersamaan dengan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Provinsi. Saat ini Pemprov masih menyiapkan syarat dan ketentuan lomba.

Pemprov Bengkulu, lanjut Hengki, mengapresiasi berdirinya Masata di Bengkulu. Keberadaan Masata, juga organisasi lainnya bisa berkolaborasi untuk sama-sama memajukan pariwisata Bengkulu. Khususnya dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas kunjungan wisatawan. Dia meyakini industri pariwisata yang kreatif dan inovatif ikut mendorong perekonomian daerah.

“Pemerintah tidak mungkin bisa bekerja sendiri mengembangkan pariwisata daerah. Organisasi yang konsen pada bidang pariwisata bisa sama-sama menanamkan sapta pesona kepada masyarakat. Aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan. Kalau ini sudah tertanam, wisatawan akan betah dan kembali berkunjung ke Bengkulu,” pesan Hengki.

Di Bengkulu, saat ini sudah tujuh daerah yang sudah memiliki kepengurusan DPC Masata. Yakni Kota Bengkulu, Mukomuko, Kepahiang, Seluma, Kaur, Bengkulu Tengah dan Bengkulu Selatan. Untuk DPD Masata Provinsi Bengkulu dikomandoi Yuwono Pintadi sebagai ketua. Lalu ada Wakil Ketua Yustin Hendri, Sekretaris Suparhim, Wakil Sekretaris Leo Fatli Bakti, Bendahara Trisna Anggaraini dan jajaran kepala bidang.
Selanjutnya untuk Ketua DPC Kota yakni dr. Anarulita Muchtar, Wakil Ketua Atiek Siswati, Sekretaris Eko Suryana M. Kom, Wakil Sekretaris Elidiana, M.Pd, Bendahara Syamsul Bahri dan jajaran kepala bidang.

Pelantikan DPD Masata Provinsi, Sabtu (30/1) dilakukan secara serentak bersama 4 provinsi lainnya di Indonesia. Pelantikan dipusatkan di Kalimantan Timur dan disaksikan secara virtual di Graha Asiah. Selain pelantikan 5 pengurus DPD Masata, juga ada 24 DPC Masata yang pengurusnya dilantik dan dibagikan Surat Keputusan (SK).

Ketua DPD Masata Provinsi Bengkulu Yuwono Pintadi dalam sambutannya mengungkapkan, Masata merupakan organisasi non profit. “Masata memiliki visi menjadi organisasi pelaku, pemerhati, pencinta pariwisata Indonesia yang berkompeten dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Indonesia,” kata Yuwono.

Dia menambahkan, Masata memiliki misi memberikan kontribusi nyata untuk mendukung sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Masata dapat ikut memajukan pariwisata berbasis masyarakat dalam meningkatkan harkat, martabat dan ekonomi.
Masata berperan membangun desa, kawasan dan destinasi wisata dalam rangka peningkatan ekonomi kreatif masyarakat. Masata menjadi narahubung dalam kepentingan kemeterian dan lembaga antar pusat dan daerah, khususnya bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Masata membangun sinergitas dan kolaborasi antar asosiasi/ organisasi/ perkumpulan pariwisata di tingkat pusat dan daerah,” ujar Yuwono.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Masata Kurnia Lesandri meminta agar DPC kabupaten/kota fokus pada potensi daerah masing-masing. Supaya keberadaan Masata juga semakin dikenal oleh masyarakat, promosi juga harus digencarkan.

Menurut Lesandri untuk mendukung pariwisata bisa dimulai dari hal kecil. DPD dan DPC harus tahu dulu apa yang ingin dikerjakan. Salah satunya seperti menjaga kebersihan dan memperhatikan persoalan sampah. “Yang paling kecil kita lihat. Jalan pagi di Pantai Panjang bisa melihat sampahnya banyak sekali. Masata bisa ikut membuat gerakan untuk membersihkan sampah,” pesannya.

Kondisi pariwisata di Indonesia, dinilai Lesandri sudah pada tahapan menggembirakan. Namun jika dibandingkan dengan negara lain, masih tertinggal. Keberadaan komunitas dan asosiasi yang mengatasnamakan pariwisata bisa mendorong kemajuan secara bersama-sama. (id.)*